Uncategorized

Bale Sundari Jadi Puseur Ngamumule Budaya Sunda, Generasi Muda Belajar Aksara Buhun

Kabupaten Bandung,Senin(06/07/2026)
Semangat ngarumat budaya karuhun kembali bergema di Desa Cisondari, Kecamatan Pasirjambu, Kabupaten Bandung. Melalui kegiatan “Nyiar Luang: Wawanohan Jeung Naskah Kuno”, masyarakat dari berbagai kalangan berkumpul di Bale Sundari untuk memperdalam pemahaman tentang bahasa, aksara, sejarah, dan filosofi budaya Sunda sebagai upaya menjaga identitas Tatar Pasundan di tengah derasnya arus modernisasi.
Kegiatan yang digelar pada Minggu (5/7/2026) hal ini menjadi program perdana di Bale Sundari, setelah sebelumnya masyarakat melaksanakan rangkaian Muharaman dan Hajat Lembur. Bale Sundari yang dibangun secara gotong royong diharapkan menjadi pusat edukasi sekaligus ruang pelestarian budaya Sunda.
Penggagas kegiatan, Chandra Komara Purnama, mengatakan pelestarian budaya tidak cukup hanya mengenalkan naskah kuno, tetapi juga harus dibarengi dengan pembiasaan menggunakan bahasa Sunda dalam kehidupan sehari-hari.
“Generasi muda jangan sampai tercerabut dari akar budayanya. Mereka harus mengenal bahasa, aksara, tradisi, dan nilai-nilai luhur Sunda agar warisan karuhun tetap hidup,” ujarnya.

Peserta yang hadir terdiri atas pelajar, mahasiswa, Karang Taruna Paguyuban Sundaherang, Bunda Literasi, hingga pegiat pendidikan. Mereka tidak hanya memperoleh materi sejarah perkembangan aksara Sunda, tetapi juga mengikuti praktik menulis Aksara Sunda Kuno menggunakan kutipan naskah Carita Ratu Pakuan.

Dalam kegiatan tersebut turut dipamerkan sejumlah replika naskah kuno, di antaranya Siksa Kandang Karesian, Bujang Gamanik, serta dua naskah khas Cisondari, yakni Pasal Samahiang dan Pepeling Lampa, yang menjadi bukti kekayaan literasi masyarakat Sunda pada masa lampau.
Sebagai narasumber, Mang Ujang Laip memaparkan sejarah perkembangan aksara Sunda, sementara Achmad Syafei mengulas filosofi aksara Sunda Buhun yang sarat makna kehidupan. Menurutnya, setiap aksara mengandung nilai tentang ilmu pengetahuan, kebajikan, serta etika hidup masyarakat Sunda.
Achmad juga menegaskan bahwa peradaban Sunda memiliki sejarah panjang yang tercermin dari berbagai naskah dan situs bersejarah. Karena itu, pelestarian budaya harus menjadi tanggung jawab bersama, baik masyarakat maupun pemerintah.

Salah seorang peserta, Megantari, mengaku bangga dapat mengikuti kegiatan tersebut. Menurutnya, penggunaan bahasa Sunda di kalangan generasi muda kini semakin berkurang sehingga diperlukan ruang belajar yang menarik agar mereka kembali mencintai bahasa dan budayanya sendiri.
Melalui kegiatan Nyiar Luang, masyarakat Cisondari berharap semangat ngamumule budaya Sunda terus tumbuh dan menjadi estafet bagi generasi penerus, sehingga bahasa, aksara, dan nilai-nilai luhur warisan karuhun tetap ngahiji, hirup, tur mekar di Tatar Pasundan.

Nani P.

Loading

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *